Nelayan di Rawa Pening

Rawa Pening Danau Wisata di Kota Ambarawa

Rawa pening merupakan danau yang memiliki luas 2.670 hektare. Danau ini berada di empat kecamatan di Semarang yaitu Kecamatan Bawen, Kecamatan Ambarawa, Kecamatan Tutang, dan yang terkahir Kecamatan Banyubiru. Tepatya Rawa Pening terletak di cekungan terendah dari Gunung Telomoyo, Gunung Merbabu dan juga Gunung Ungaran. Rawa Pening merupakan danau yang terbentuk secara alamiah, bukan disebabkan.

Rawa Pening Semarang
Keindahan Alam di Rawa Pening. Sumber Gambar : zonawisata.net/

Rawa Pening sendiri mempunyai arti rawa yang bening (jernih). Rawa Pening memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Keindahan rawa pening dapat Anda nikmati ketika pagi hari tiba, karena diwaktu itulah Anda bisa dengan jelas menyaksikan berbagai keindahan alam yang ada di wilayah ini.

Wisata Rawa Pening
Keindahan Danau Rawa Pening di Pagi Hari Sumber Gambar : zonawisata.net

Biasanya rawa loket rawa pening buka pada pukul 8.30 sampai 21.00 WIB. Saat pagi hari Anda bisa mengajak keluarga, kerabat, teman atau bahkan kekasih untuk berekreasi di Rawa Pening.

Indahnya Alam di Danau Rawa Pening

Rawa Pening
Danau Rawa Pening. Sumber Gambar : gallery101.wordpress.com

Pemandangan Alam di Rawa Pening

Untuk mengelilingi Rawa Pening Anda bisa menyewa perahu yang tersedia di dermaga pulau. Enceng gondong yang memenuhi pinggiran danau serta kehidupan nelayan sekitar menjadi pemandangan yang ada di Rawa Pening. Bagi Anda yang memiliki hobi fotografi, Anda wajib mengabadikan Rawa Pening menjadi sebuah foto yang indah. Datanglah saat pagi hari ketika sunrise sekitar jam 5 pagi maka Anda akan mendapat pemandangan yang sangat indah.

Wisata Rawa Pening Semarang
Keindahan Sunset di Danau Rawa Pening Sumber Gambar : zonawisata.net/
Wisata Rawa Pening Ambara
Sumber Gambar : zonawisata.net

Legenda yang di Rawa Pening

Legenda Rawa Pening
Sumber Gambar : wisatarawapeningbejalen.blogspot.com/

Indonesia memang memiliki beragam kebudayaan yang tidak pernah ada habisnya. Hampir setiap daerah mempunyai cerita legenda yang selalu diceritakan secara turun temurun. Begitu juga dengan Rawa Pening yang mempunyai cerita legenda tersendiri.

Asal Mula Danau Rawa Pening

Pada zaman dahulu kala, di desa Ngasem hiduplah seorang gadis bernama Endang Sawitri. Pada suatu saat gadis ini menikah, tak ada seorangpun penduduk desa yang mengetahui hal tersebut. Hingga pada suatu saat hal yang sangat mengejutkan terjadi, Endang Sawitri hamil dan kemudian melahirkan, buka melahirkan anak manusia tetapi seekor naga. Anehnya naga tersebut bisa berbicara layaknya manusia. Kemudian naga itu oleh ibunya diberi nama Baru Klinting.

Ketika remaja Bayu Klinting mulai bertanya kepada ibunya. Bu, ‘Apakah saya ini mempunyai seoarang Ayah?, siapakah ayah saya sebenarnya”. Kemudian ibunya menjawab, “Ayahmu adalah seoarng raja yang saat ini sedang melakukan tapa di gua Telomaya. Temuilah ayah kamu di sana, dan bawalah klintingan ini sebagai bukti, karena barang ini merupakan peninggalan ayahmu dulu”.

Dengan senang hati Bayu Klinthing berangkat menemui ayahnya yang ternyata bernama Ki Hajar. Sesampainya di goa tempat pertapaan Ayahnya, Baru Klinting lansung bertanya apakah yang ada di hadapannya adalah ayahnya sambil menunjukan klintingan yang diberikan oleh ibunya. Akhirnya Ki Hajar mengakui bahwa Bayu Klinting adalah anaknya. Namun ternyata ayahnya menginginkan satu bukti lagi yaitu memerintahkan Bayu Klinting untuk melingkari gunung Telomoyo. Akhirnya Bayu Klinting bisa menlingkari gunung tersebut dan mendapat pengakuan penuh dari ayahnya.

Singkat cerita Bayu Klinting disuruh ayahnya untuk bertapa di hutan lereng gunung. Hingga beberapa tahun kemudian. Penduduk desa Pathok ingin mengadakan pesta sedekah bumi. Para penduduk desa lalu beramai-ramai berburu ke dalam hutan, namun naas tidak ada satu hewan buruan pun yang didapat.

Setelah sore akhirnya mereka menemukan seekor naga besar yang sedang bertapa (Bayu Klinting). Kemudian para penduduk desa langsung memotong-motong naga tersebut dan dagingnya dibawa pulang. Para penduduk desa akhirnya menggelar acara pesta dengan hidangan daging naga hasil buruan. Ditengah-tengah pesta datanglah seorang anak kecil jelmaan dari naga Bayu Klinting. Karena tampilan Bayu Klinting yang lusuh dan kotor, warga pun mengusirnya dari pesta.

Pesta Panen
Sumber Gambar : baltyra.com/

Bayu Klinting pun meninggalkan pesta dengan rasa sakit hati, di tengah perjalan Bayu Klinting bertemu dengan seorang janda tua yang baik hati. Diajaklah Bayu Klinting untuk mampir kerumah janda tersebut. Janda tersebut memperlakukan Bayu Klinting seperti layaknya seorang tamu, disiapkan hidangan serta makanan yang enak. Karena tersentuh dengan sikap janda tersebut Bayu Klinting memberikan suatu pesan. Nek, “Kalau terdengar suara gemuruh nenek harus siapkan lesung, agar selamat!”.

Asal Usul Rawa Pening
Sumber Gambar : viva.id

Sesaat kemudian Bayu Klinting kembali ke pesta mencoba ikut dan meminta hidangan dalam pesta penduduk desa. Namun warga tetap tidak menerima Bayu Klinting, bahkan ditendang agar cepat pergi dari tempat pesta tersebut. Dengan kemarahan hati Bayu Klinting mengadakan sayembara. Dia menancapkan lidi ke tanah, dan menantang penduduk desa apakah ada yang bisa mencabutnya.

Ternyata tak satu pun warga desa yang bisa mencabut lidi Tersebut. Akhirnya Bayu Klinting sendiri yang mencabutnya, ternyata lubang tancapan tadi muncul mata air yang sangat deras makin membesar dan menggenangi desa itu, penduduk semua tenggelam, kecuali janda tua yang masuk lesung dan dapat selamat, semua desa menjadi rawa-rawa, karena airnya sangat bening, maka disebutlah “Rawa Pening” yang berada di kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Leave a Comment