Monumen Palagan Ambarawa

Monumen Palagan Ambarawa, Simbol Perjuangan Pemuda Ambarawa

Kota Ambarawa merupakan sebuah kota kecil yang berada di kaki bukit, ibukota Kabupaten Semarang memiliki iklim yang sejuk karena letaknya geografisnya yang berada di antara perbukitan. Kota ini terletak diantara ke dua kota besar yaitu Semarang dan Yogjakarta sehingga Ambarawa menjadi sebuah jalur darat yang strategis menghubungkan kedua kota tersebut. Sejak zaman penjajahan Belanda, kota ini menjadi salah satu tempat yang digunakan untuk melawan para penjajah. Salah satu pertempuran yang paling terkenal adalah pertempuran Ambarawa dan untuk mengenang pertempuran ini dibuatlah sebuah Monumen Palagan Ambarawa.

Monumen Palagan Ambarawa merupakan sebuah monumen yang berada di Kota Ambarawa, Kabupaten Semarang. Dibangunnya monumen ini bertujuan digunakan sebagai simbol untuk mengenang peristiwa pertempuran yang terjadi di Ambarawa pada tanggal 12 Desember sampai 15 Desember 1945.

Museum Palagan Ambarawa
Museum Palagan Ambarawa
Sumber Gambar : iyothworld.blogspot.com

Peristiwa pertempuran di Ambarawa di awali dari mundurnya pasukan sekutu yang terdesak dari kota Magelang sehingga mundur sampai Ambarawa. Saat di kota Ambarawa inilah pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dipimpin oleh Kolonel Soedirman menggunakan taktik gelar sumpit urang atau strategi pengepungan rangkap dari kedua sisi. Taktik ini terbukti berhasil sehingga membuat pasukan sekutu benar-benar terkurung. Hal ini membuat suplai dan komunikasi dengan pasukan induk sekutu terputus. Setelah melakukan pertempuran hebat selama empat hari, pertempuran ini akhirnya selesai pada tanggal 5 Desember dengan kemenangan berhasil diraih tentara Indonesia sehingga bisa mengambil Alih Ambarawa dan pasukan Sekutu berhasil dipukul mundur ke Semarang.

Sejarah dan Kisah Pertempuran Ambarawa

Relief Pahlawan di Monumen Palagan Ambarawa
Relief Pahlawan di Monumen Palagan Ambarawa
Sumber Gambar : arasyazis.blogspot.com

Peristiwa pertempuran Ambarawa mempunyai latar belakang insiden yang terjadi di Magelang sesudah mendaratnya tentara sekutu yaitu Brigade Artileri divisi India ke-23 yang datang ke Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945. Pihak dari Republik Indonesia mengijinkan pasukan sekutu masuk wilayah RI dikarenakan untuk mengurus permasalahan tawanan perang tentara Belanda yang ditahan di penjara Magelang dan Ambarawa.

Tetapi yang terjadi diluar perkiraan sebelumnya, pasukan sekutu Inggris yang datang diikuti oleh NICA yang kemudian memberikan senjata bekas tawanan yang dibebaskan sebelumnya. Pada 26 Oktober 1945 terjadi sebuah insiden terjadi di kota Magelang yang kemudian berkembang menjadi pertempuran pasukan Tentara Keamanan Rakyat melawan tentara gabungan sekutu NICA dan pasukan Inggris. Insiden ini bisa diredam ketika Presiden Soekarno dan Brigadir Jendral Bethell mendatangi Magelang pada tanggal 2 November 1945. Antara ke dua belah pihak akhirnya mencapai kesepakatan yang dituliskan dalam 12 pasal. Berikut adalah naskah perjanjian tersebut.

Pihak sekutu tetap akan menempatkan pasukannya di Magelang untuk melindungi dan mengurus evakuasi APWI (Allied Prisoners War And Interneers atau tawanan perang dan interniran sekutu). Jumlah pasukan sekutu dibatasi sesuai dengan keperluan itu.
Jalan Ambarawa – Magelang terbuka sebagai jalur lalu lintas Indonesia – Sekutu
Sekutu tidak akan mengakui aktivitas NICA dalam badan-badan yang berada di bawahnya.

Gerbong Kereta Api di Palagan Ambarawa
Gerbong Kereta Api di Palagan Ambarawa
Sumber Gambar : semarangplus.com

Tetapi tentara sekutu mengingkari perjanjian tersebut. akhirnya pada tanggal 20 November terjadi pertempuran di Ambarawa antara Tentara Keamanan Rakyat yang dipimpin oleh Mayor Sumarto dengan tentara Sekutu. Pada tanggal 21 November 145 pasukan Sekutu menarik pasukan di Magelang untuk membantu pasukan di Ambarawa. Tetapi pada tanggal 22 November terjadi pertempuran hebat di dalam kota dengan pasukan Sekutu yang melakukan pengemboman di kampung-kampung yang ada di Ambarawa.

Pasukan Tentara Keamanan Rakyat bersatu dengan pasukan pemuda di Boyolali, Salatiga memilih bertahan di kuburan Belanda. Sepanjang rel kereta api pasukan ini membentuk barisan dan membelah kota Ambarawa. Sementara itu dari Magelang pasukan Tentara Keamanan Rakyat dari divisi V/Purwokerto yang dipimpin Imam Androngi melakukan serangan fajar dan berhasil mengambil alih desa Pingit dan juga merebut desa yang ada di sekitarnya. Setelah berhasil merebut sebagian wilayah yang dikuasai sekutu, para komandan pasukan melakukan rapat koordinasi yang dipimpin oleh Kolonel Holland Iskandar.

Dalam rapat ini menghasilkan sebuah keputusan untuk melakukan pembentukan komando yang disebut Markas pimpinan Pertempuran yang ada di Magelang. Sejak saat itu Ambarawa dibagi menjadi 4 bagian yaitu sektor utara, sektor barat, sektor selatan, dan juga sektor timur. Pada tanggal 26 November pimpinan pasukan Tentara Keamanan Rakyat dari Purwokerto yaitu Kolonel Isdimin gugur di medan perang. Kemudian kepemimpinan Tentara Keamanan Rakyat digantikan oleh Kolonel Soedirman. Akhirnya pertempuran bisa dikuasi oleh tentara Republik Indonesia sehingga pasukan Inggris berhasil diusir pada tanggal 5 Desember 1945.

Truck Tentara Sekutu
Truck Tentara Sekutu
Sumber Gambar : flickr.com

Pada tanggal 11 Desember Kolonel Soedirman mengambil sebuah keputusan untuk mengumpulkan semua komandan sektor. Setelah melakukan rapat akhirnya didapat sebuah rencana untuk melakukan serangan terakhir. Serangan direncanakan pada tanggal 12 Desember 1945 tepat pada pukul 4:30 yang dipimpin oleh masing-masing komandan divisi melakukan serangan secara mendadak dari semua sektor. Pada tanggal 12 Desember 1945 dini hari, pasukan Tentara Keamanan Rakyat menuju sasaran masing-masing. Dalam waktu setengah jam pasukan Tentara Keamanan Rakyat menuju sasaran masing-masing. Dalam waktu setengah jam pasukan Tentara Keamanan Rakyat berhasil mengepung musuh di dalam kota. Pertahanan terkuat tentara Sekutu berhasil dilumpuhkan. Akhirnya pada tanggal 15 Desember pasukan sekutu meninggalkan kota Ambarawa dan mundur menuju Semarang.

Semoga Anda bisa mengambil semangat dari para pejuang yang dengan gigih berani melawan tentara sekutu untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Maka sudah sepantasnya kita bisa mengisi kemerdekaan ini dengan kegiatan positif untuk membangun bangsa.

Leave a Comment