Pesona Masjid Besar Kauman Semarang

Masjid Besar Kauman semarang merupakan salah satu masjid terbesar yang ada di Kota Semarang. Masjid ini berada di kawasan Pasar Johar ini dikenal masyarakat dengan sebutan Masjid Kauman karena letak masjid ini berada tepat di kampung Kauman. Istilah kauman sendiri sebenarnya memiliki sebuah arti tersendiri yaitu berasal dari kata “kaum”, yaitu keluarga abdi dalem yang mengemban tugas dari Adipati Pandanaran I untuk mengelola masjid tersebut.

Menurut sebuah inkripsi yang menggunakan bahasa dan huruf Jawa yang terpatri di batu marmer tembok pada bagian dalam gerbang masuk ke Masjid, Masjid ini dibangun pada tahun 1170 Hijriah atau pada tahun 1749 M. Berikut kutipan lengkap dari tulisan di batu marmer.

“Pemut kala penjenengane Kanjeng Tuwan Nikolas Harting hedelir gopennar serta sarta Direktur hing tanah Jawi gennipun kangjeng Kyahi Dipati Suradimanggala hayasa sahega dadosse masjid puniki kala Hijrat 1170”

Arti dalam bahasa Indonesia:

“Tanda peringatan ketika kanjeng Tuan Nicoolass Hartingh, Gubernur serta Direktur tanah Jawa pada saat Kanjeng Kyai Adipati Suramanggala membangun hingga jadinya masjid ini pada tahun 1170 Hijrah”

Sejarah Masjid Besar Kauman

Masjid Agung Kauman
panduanwisata.id

Tuan Nicoolaas yang disebutkan dalam inskripsi berbahasa jawa tersebut merupakan seorang tokoh utama yang menjadi penggerak lahirnya perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Perjanjian tersebut berisi tentang kesepakatan untuk memecah wilayah Kesultanan Mataram atau lebih dikenal dengan Palihan Nagri menjadi wilayah Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat yang berpusat di Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta. Atas upaya tersebut Nicoolaas Hartingh mendapat hadiah rumah dinas dari pemerintahan Hindia Belanda yang berada di daerah tugu muda dengan nama De Vredestein atau bisa juga disebut dengan nama Wisma Perdamaian.

Masjid Kauman didirikan oleh adipati Suradimanggala (Kiai Terboyo) untuk menggantikan masjid lama yang rusak parah karena kebakaran akibat dari kerusuhan pecinan di Semarang pada tahun 1741.

Lokasi masjid lama ada di bagian timur alun-alun diseberang barat kali Semarang. Masjid yang berumur puluhan tahun ini pernah mengalami pemugaran pada masa pemerintahan Belanda yaitu pada tahun 1889 dan 1904 karena mengalami kebakaran.

Pilar Penyangga Masjid Besar Kauman
bp.blogspot.com

Bangunan Masjid Besar Kauman yang masih ada sampai sekarang adalah bangunan ke empat yang merupakan lanjutan dari masjid keadipatian sebelumnya. Arsitektur Masjid Besar Kauman sering memiliki konsep tektonika. Sistem yang mirip dengan struktur tumpang yaitu bangunan tumpang yang memiliki lima pilar penyangga seperti pada bangunan pra Islam yang ada di tanah Jawa. Menurut Ir. Totok Roesmanto, dibuatnya sistem tektonik pada masjid ini bukan menggunakan soko guru seperti yang ada di Masjid Agung Demak, tetapi karena ketidakmampuan arsitek asal Belanda pada masa itu sehingga berujung menjadi menjadi bangunan yang memiliki empyak pada bangunan tradisional.

Pada awal pendirian masjid ini adalah masjid pertama di Jawa yang memiliki citra tradisional tetapi memiliki desain konstruksi modern. Karya konstruksi yang demikian dikenal dengan sebutan arsitektur masjid modern tradisionalistik.

Kondisi Masjid Besar Kauman

Kondisi Masjid Besar Kauman
detik.com

Letak Masjid Besar Kauman Semarang awalnya berdiri megah di depan alun alun kota Semarang. Tetapi seiring dengan pergantian zaman, pada tahun 1938 alun-alun kota tersebut berubah fungsi menjadi kawasan komersil yang dimulai dengan dibangunnya kawasan komersial seperti  Pasar Yaik, Pasar Johar , gedung BPD dan Hotel Metro yang kemudian menjadi area Kawasan Perdagangan serta pusat perbelanjaan kota Semarang.

Masjid Besar Kauman Semarang sekarang berada di antara bangunan-bangunan tinggi yang mengelilinginya. Masjid Kauman ini berada di Jl. Alun-alun Barat Nomor 71 Semarang. Sekarang Masjid Kauman atau Masjid Besar Semarang letaknya tidak lagi berada dalam wilayah Kampung (Kelurahan) Kauman, tetapi masuk dalam wilayah Kelurahan Bangunharjo Semarang Tengah.

 

Museum Ronggowarsito Tempat Wisata Sejarah Favorit di Semarang

Museum Ronggowarsito merupakan salah satu museum yang menjadi kebanggaan warga Jawa Tengah khususnya Semarang. Museum ini menjadi salah satu tempat untuk melestarikan berbagai benda, aset kebudayaan Jawa serta menjadi sarana pendidikan bagi para generasi penerus bangsa. Museum Ronggowarsito menjadi salah satu museum yang dijadikan sebagai obyek wisata sejarah, karena banyak sekali aset yang ada di museum ini sehingga sangat cocok sebagai tempat sarana edukasi bagi masyarakat yang ingin melihat peninggalan sejarah di museum ini.

Lokasi Museum Ronggowarsito

Museum Ronggowarsito terletak di lokasi Jl. Abdulrahman Saleh No. 1 Semarang, Jawa Tengah. Museum yang menjadi kebanggaan kota Semarang ini letaknya tidak jauh dari bandara Ahmad Yani Semarang hanya berjarak sekitar 4 KM ke barat dari pusat kota Semarang, tepatnya berada di bundaran Kalibanteng.

Museum Ronggowarsito Semarang
Museum Ronggowarsito Semarang

Banyaknya koleksi peninggalan sejarah yang ada di Jawa pada museum ini menjadikan Museum Ronggowarsito menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi wisatawan. Selain bisa berlibur dengan mengunjungi tempat ini Anda juga bisa menambah wawasan tentang sejarah di masa lampau.

Gedung Museum Ronggowarsito

Museum Ronggowarsito memiliki 4 gedung dengan masing-masing gedung memiliki cerita serta latar belakang uang berbeda-beda. Misalnya saja pada gedung A lantai satu yang memiliki wahana tentang Geologi dan Geografi. Berikut adalah uraian lengkap tentang gedung yang ada di Museum Ronggowarsito.

Gedung A Museum Ronggowasito

Gedung lantai satu pada bangunan ini menyimpan berbagai wahana tentang Geografi dan juga Geologi. Pada wahana ini terdapat berbagai jenis bebatuan yang ada di permukaan bumi termasuk batu meteorit yang ditemukan di Mojogedang, Karanganyar pada tahun 1984. Pada zaman dahulu batu meteorit digunakan untuk campuran pamor keris. Selain jenis batuan meteorit terdapat juga berbagai jenis batu lain seperti batu alam yang menarik, koleksi mineral, stalagtit dan stalagmit serta berbagai batu mulia.

Salah Satu Fosil Hewan Langka di Museum Ronggowarsito
Salah Satu Fosil Hewan Langka di Museum Ronggowarsito

Pada lantai kedua gedung A, Anda bisa melihat wahana tentang Paleontologi (tentang zaman purba), beberapa jenis fosil kayu kuno, bebatuan dan masyarakat kuno juga tulang belulang dari hewan purbakala di masa silam. Ada juga beberapa binatang langka yang diawetkan seperti babi hutan, burung rajawali dan juga bajing peluncur.

Gedung B Museum Ronggowasito

Pada gedung B lantai satu terdapat peninggalan budaya dan kerajinan yang berasal dari Hindu Budha. Ada beberapa yang dipamerkan seperti Lingga, Arca, Yoni, kendi, kentongan, perunggu, patung dewa serta beberapa candi yang ada di Jawa Tengah. Selain itu di lantai satu juga terdapat kebudayaan yang bercorak Islam seperti Menara Masjid Kudus, Masjid Demak, seni hias, replika, kaligrafi serta ornamen masjid Mantingan Jepara. Ada juga salinan Al Qur’an yang ditulis dengan tangan dan juga cerobong sumur dari Caruban.

Ilustrasi Pengrajin Gerabah di Bagunan Gedung B
Ilustrasi Pengrajin Gerabah di Bagunan Gedung B

Pada lantai dua gedung B, Anda akan disajikan aneka keramik dan batik. Aneka jenis sera model keramik lokal maupun keramik yang berasal dari luar seperti cina dan eropa. Selain itu ada juga berbagai jenis kerajinan gerabah yang cara pembuatannya diperlihatkan dalam bentuk patung. Sedangkan batik yang ada di tempat ini terdiri dari berbagai motif yang berasal dari berbagai daerah seperti Surakarta, Lasem, Banyumasan, dan Pekalongan.

Gedung C Museum Ronggowasito

Lantai satu pada gedung C terbagi atas ruang bersejarah yang menceritakan perjuangan bersenjata yang terbagi lagi atas koleksi benda-benda yang dipakai pada zaman pertempuran serta diorama perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan. Selain itu ditampilkan juga beberapa diorama peristiwa bersejarah seperti pemberontakan PKI di Cepu, peristiwa Palagan Ambarawa, Serangan Umum 1 Maret serta gerakan Tritura.

Gedung D Museum Ronggowasito

Pada lantai satu gedung D terdapat wahana yang memamerkan pembangunan heraldik, ruang intisari, numismatik dan juga tradisi Nusantara. Sedangkan pada lantai dua menampilkan berbagai koleksi kesenian seperti pagelaran wayang, seni pertunjukan, dan seni musik.

Patung Punokawan di Museum Ronggowasito
Patung Punokawan di Museum Ronggowasito

Museum Ronggowarsito merupakan salah satu museum yang menjadi kebanggaan warga Jawa Tengah khususnya Semarang. Museum ini menjadi salah satu tempat untuk melestarikan berbagai benda, aset kebudayaan Jawa serta menjadi sarana pendidikan bagi para generasi penerus bangsa. Museum Ronggowarsito menjadi salah satu museum yang dijadikan sebagai obyek wisata sejarah, karena banyak sekali aset yang ada di museum ini sehingga sangat cocok sebagai tempat sarana edukasi bagi masyarakat yang ingin melihat peninggalan sejarah di museum ini.

Museum Ronggowarsito dibuka untuk umum dalam setiap harinya dari pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. Harga tiket masuk Museum Ronggowarsito juga tergolong murah yaitu sekitar Rp 4000,- untuk dewasa dan Rp 2000,- untuk anak-anak bagi wisatawan lokal, dan Rp. 10.000,- perorang bagi wisatawan asing. Bagaimana apakah Anda tertarik untuk berkunjung ke museum ini? Bila Anda ke Semarang jangan lupakan untuk mampir ke tempat wisata lainnya seperti bangunan Lawang Sewu, dan Kota Lama Semarang.

Gereja Blenduk, Pesona Bangunan Tua di Kota Lama

Kawasan Kota Lama Semarang memang memiliki pesona yang sayang untuk dilewatkan. Berbagai bangunan tua dari zama Belanda masih berdiri kokoh di kota ini. Bangunan-bangunan tua menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk mengunjungi kawasan Kota Lama Semarang yang letaknya tidak jauh dari pusat kota. Kota lama berada di dekat pasar Johar yang merupakan salah satu pasar terbaik di Asia Tenggara. Pasar Johar merupakan pasar tradisional yang dibangun sejak zaman penjajahan Belanda. Di kota lama terdapat sebuah bangunan yang sangat megah dengan bentuk kubah cukup menonjol, sehingga masyarakat Jawa di sekitar menyebutnya mbenduk atau blenduk. Selain kubah besar di bangunan utama, bangunan ini juga memiliki kubah kecil di bagian kanan dan kiri.

Gereja Blenduk merupakan gereja tertua di Jawa Tengah yang dibangun sejak tahun 1753, tampilan saat ini sudah mengalami beberapa perubahan. Pada awal dibangun Gereja Blenduk memiliki bentuk seperti rumah panggung khas Jawa yang memiliki atap sesuai dengan karakteristik Jawa.

Gereja Blenduk di Malam Hari
Gereja Blenduk di Malam Hari
Sumber Gambar : jayatour.co

Gereja Blenduk mengalami perombakan total padatahun 1894, pada tahun ini gedung ini dibangun ulang oleh H.PA. de Wilde dan W.Westmas. Bangunan tersebut dibuat dengan dua menara serta atab kubah besar dengan penutup lapisan logam, hasilnya bisa Anda saksikan saat ini sebuah bangunan kuno yang masih berdiri kokoh. Informasi tentang Wilde dan Wetmas ini tertulis pada kolom di belakang mimbar. Saat ini, Gereja Mbenduk resmi bernama GPIB-Immanuel (Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat).

Bangunan Gereja Mbenduk memiliki perbedaan yang tidak menonjolkan bentuk, gedung gereja ini memiliki gaya neo klasik dan berada di jalan Letjen Suprapto No. 32 yang sangat mudah dikenali karena gaya arsitekturnya yang lebih menonjol dibandingkan dengan bangunan lain di sekitarnya. Sampai saat ini, Gereja Blenduk masih aktif digunakan untuk beribadah pada hari minggu serta peribadahan di hari-hari besar keagamaan umat Kristen Protestan.

Sisi Taman Gereja Blenduk
Sisi Taman Gereja Blenduk
Sumber Gambar : http://hellosemarang.com/

Persis di seberang Gereja Mbeduk terdapat sebuah taman kota yaitu Taman Srigunting yang memiliki banyak pohon yang rindang. Banyak wisatawan yang memanfaatkan pohon ini untuk bersantai sambil menikmati kuliner khas Semarang yang dijual di sekitar tempat tersebut. Interior ruangan gereja sangat indah dan menakjubkan, ruangan kerjanya dihiasi lampu gantung kristal serta bangku-bangku kuno dari Belanda. Di dalam ruangan gereja memang tidak terlalu besar tetapi secara keseluruhan bangunan ini sangat mengesankan.

Di sekitar Gereja Blenduk juga terdapat banyak bangunan kuno yang masih digunakan sampai saat ini seperti kantor Kerta Niaga, Stasiun Kereta Api Tawang, gedung Jiwasraya, gedung Marba, dan bangunan kuno lain yang masih digunakan. Gereja Blenduk kerap dijadikan tempat favorit untuk melakukan foto prewedding. Bukan hanya warga Semarang saja tetapi banyak warga dari luar kota yang sengaja datang ke tempat ini untuk melakukan foto prewedding. Sayang ketika malam hari kawasan ini belum terlalu bergairah karena sedikitnya aktivitas. Pemkot setempat telah membuat beberapa program untuk kawasan ini agar bisa bergairah kembali dan bisa memberikan pemasukan bagi pemerintah. Berbagai kegiatan dilakukan seperti menghidupkan kembali pentas pertunjukan seni di malam hari serta membuat city walk di hari-hari tertentu.

Tetapi hal yang dilakukan pemerintah setempat tampaknya belum membuahkan hasil yang memuaskan. Selain itu masalah banjir rob yang menjadi momok kota ini juga belum bisa di atasi. Tetapi bagi Anda yang pernah mengunjungi Kawasan Kota Lama pasti akan terpesona dan selalu rindu untuk mengunjunginya kembali.

Stasiun Tawang, Peninggalan Belanda yang Menjadi Pintu Masuk Kota Semarang

Stasiun Tawang Semarang merupakan stasiun utama Kota Semarang yang melayani kereta api bisnis dan eksekutif serta ekonomi. Stasiun Tawang merupakan stasiun kereta api besar yang paling tua di Indonesia. Sejak dibangun pertama kali tak banyak perubahan yang terjadi di Stasiun Tawang. Hampir semua bagian yang ada di stasiun ini masih tetap sama. Lapangan yang ada di depan Stasiun Tawang (saat ini menjadi Polder) memiliki nilai sejarah yang tinggi. Lapangan ini dulu digunakan sebagai ruang terbuka di kawasan kota lama yang difungsikan sebagai tempat olah raga, tempat upacara, pertandingan dan lain sebagainya.

Sejarah Stasiun Tawang

Sejarah Stasiun Tawang
Sejarah Stasiun Tawang
Sumber Gambar : kereta-api.co.id

Stasiun Tawang dibangun untuk menggantikan Stasiun Tambak Sari milik N.I.S yang pertama dibangun oleh pemerintahan Belanda. Pembangunan stasiun lama ditandai oleh upacara pencangkulan tanah oleh gubernur Belanda yang bernama Jenderal Mr. Baron Sloet van de Beele, berbarengan dengan pembentukan transportasi dengan sistem pengangkutan kereta api milik N.I.S pada tanggal 16 Juni 1864. Pada masa itu N.I.S membuat jalur kereta antara Semarang-Yogyakarta-Solo. Setelah melalui proses panjang akhirnya pada tanggal 10 Februari jalur kereta tersebut bisa diselesaikan. Seiring berjalannya waktu dengan adanya jalur kereta tersebut terjadi perkembangan kegiatan perdagangan yang sangat pesat. Karena banyaknya penumpang yang ingin menggunakan jalur ini membuat Stasiun Tambak Sari sudah overload dan tidak memenuhi persyaratan untuk digunakan.

Oleh karena itu dibuatlah suatu rencana untuk membuat stasiun kereta api yang baru. Untuk membuat rancangan pembangunan stasiun tersebut dipercayakan kepada arsitek J.P de Bordes. Setelah Indonesia merdeka stasiun ini diambil alih oleh pemerintahan Republik Indonesia yang kemudian diganti namanya dengan nama Perusahaan Jawatan Kereta Api Tawang (PJKA). Setelah mengambil alih stasiun ini dari Belanda tidak banyak perubahan yang dilakukan pada Stasiun Tawang, pada bagian facede juga masih terawat dengan baik sampai sekarang.

Halam Depan Stasiun Tawang
Halaman Depan Stasiun Tawang
Sumber Gambar : fsyofian.wordpress.com

Di depan Stasiun Tawang terdapat sebuah lapangan (saat ini menjadi Folder) memiliki nilai sejarah yang tinggi. Lapangan tersebut dulu digunakan sebagai ruang terbuka di Kota Lama yang digunakan sebagai tempat upacara, lomba, pertandingan, olah raga dan lain sebagainya. Saat ini Stasiun Tawang menjadi salah satu icon penting bagi Kota Semarang terutama Kawasan Kota Lama. Karena pada masa lalu terdapat sebuah sumbu visual yang menghubungkan stasiun ini dengan bangunan Gereja Bleduk.

Perbaikan di Stasiun Tawang

Rel Kereta Api Stasiun Tawang
Rel Kereta Api Stasiun Tawang
Sumber Gambar : seputarsemarang.com

Dari jauh Anda dapat melihat bangunan Stasiun Tawang yang memanjang dari arah barat ke timur. Di seberang stasiun terdapat polder Kota Lama yang difungsikan sebagai penampung bila terjadi banjir rob di daerah Kota Lama Semarang. Garis melengkung serta persegi merupakan bidang yang banyak di jumpai pada ornamen dinding Stasiun Tawang. Kanopi yang digunakan untuk menaungi pintu masuk utama membuat stasiun ini jadi terkesan eksklusif.

Pada tahun 2009 Stasiun Tawang dijadikan sebagai bangunan cagar budaya oleh PT Kereta Api Indonesia (PT. KAI). Penetapan ini dilakukan setelah adanya peraturan tentang pelestarian bangunan kuno terhadap kondisi fisik. Untuk melaksanakan peraturan tersebut dilakukan restorasi Stasiun Tawang agar kualitas bangunan dan juga kebersihan tetap terjaga dengan baik. Rencana restori Stasiun Tawang meliputi mengganti lapisan dinding stasiun yang sudah banyak karat serta retak-retak.

Bahan yang digunakan untuk melapisi dinding tersebut menggunakan semen abu-abu atau portland cement (PC), setelah itu di-finishing menggunakan cat tembok emulasi. Bagian yang di utamakan untuk direstorasi dindingnya adalah lobi utama stasiun karena ruangan ini yang paling sering digunakan oleh pengunjung Stasiun Tawang. Lobi ini dirancang sesuai fungsi stasiun Semarang Tawang, yaitu sebagai salah satu pintu masuk utama Kota Semarang untuk pengunjung dari luar kota. Restorasi ini menyadarkan betapa pentingnya pelestarian bangunan stasiun sebagai aset dan bagian dari sejarah kereta api Indonesia.

Kawasan Wisata Alam Umbul Sidomukti, Sensasi Wisata di Negeri Awan

Wisata umbul Sidomukti menjadi salah satu tempat wisata alternatif yang di di Bandungan, kabupaten Semarang. Bandungan memang menjadi salah satu tempat wisata favorit karena di tempat ini terdapat tempat wisata Candi Gedong Songo dan wisata Bandungan. Selain 2 tempat wisata tersebut ternyata terdapat tempat wisata lain yang menawarkan keindahan alamnya, tempat wisata itu adalah Umbul sidomukti. Lokasi wisata ini yang berada di dataran tinggi membuat Pondok Wisata Umbul Sidomukti mempunyai udara yang sejuk dan juga pemandangan alam perbukitan yang indah.

Pondok wisata umbul sidomukti berada di lereng gunung Ungaran dan diapit oleh jurang dikedua sisinya. Di lereng gunung inilah terdapat mata air pegunungan yang mengalir setiap tahunnya diantaranya Tuk ngetihan. Wisata alam Umbul Sidomukti mempunyai daya pesona sendiri sehingga banyak wisatawan dalam dan luar negeri datang ke tempat ini. Tempat wisata ini memiliki beragam fasilitas yang bisa memanjakan liburan Anda.

Aneka Wahana di Umbul Sidomukti

Aneka Wahana di Umbul Sidomukti
Aneka Wahana di Umbul Sidomukti
Sumber Gambar : ggs-adventure.blogspot.com

Fasilitas-fasilitas tersebut seperti Outbond training, taman renang alam, pondok lesehan, paket wisata, meeting room, flying fox yang memiliki panjang lintasan 110 meter dan berada pada ketinggian sekitar 70 meter. Flying fox ini dipasang menyeberang antar lembah, jadi ketika Anda mencoba wahana ini akan merasakan sensasi berpindah antar lereng bukit dengan menggunakan seuntas tali. Untuk menikmati wahana fling fox Anda cukup membeli tiket seharga Rp18.000 untuk sekali meluncur atau Rp35.000 untuk tiket terusan bolak-balik.

Selain flying fox Anda bisa menguji keseimbangan di wahana marine bridge, yaitu dengan menelusuri jembatan kayu yang diikat dengan tambang di atasnya. Bila Anda seorang rider bisa mencoba wahana off road mengelilingi keindahan desa wisata Sidomukti dan juga melintasi perkebunan yang ada di sekitar tempat wisata menggunakan atv. Dengan biaya hanya sekitar Rp15.000-Rp20.000 Anda bisa bersenang-senang menggunakan atv yang disediakan di lokasi ini.

Kolam Pemandian di Wsiata Alam Umbul Sidomukti
Kolam Pemandian di Wsiata Alam Umbul Sidomukti
Sumber Gambar : kompas.com

Ingin bersantai dan merasakan berenang di atas awan? Anda bisa mencoba wahana di taman renang alam yang ada di tempat wisata alam Umbul Sidomukti. Taman renang ini berada di lereng gunung Ungaran yang terletak pada ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut yang kedua sisi kolam renang di apit sebuah jurang. Lokasi kolam renang ini sengaja dipilih karena keindahan panorama alam serta kesegaran udara dan juga kejernihan air yang mengalir dari lereng gunung. Dengan berenang di kolam ini Anda bisa melihat pemandangan alam yang luar biasa, hamparan awan serta perbukitan lereng gunung Ungaran.

Setelah puas mencoba semua wahana yang disediakan Anda bisa mendirikan tenda di tanah lapang yang ada di desa wisata Sidomukti ini. Bila Anda tidak membawa tenda bisa menyewa pada pengelola, nikmatilah suasana petualangan sejati dengan tidur di dalam tenda. Atau kalau Anda malas untuk menggunakan tenda bisa menyewa penginapan yang tersedia di kawasan alam Umbul Sidomukti. Fasilitas yang disediakan di penginapan ini tidak kalah mewah dengan fasilitas yang disediakan oleh hotel bintang lima.

Penginapan di Wisata Alam Umbul Sidomukti
Penginapan di Wisata Alam Umbul Sidomukti
Sumber Gambar : ytimg.com

Untuk menuju tempat wisata Umbul Sidomukti Anda bisa bisa lewat arah Semarang lalu menuju arah Solo dan menemukan SPBU Lemah Ambang yang ada di sisi kiri jalan. Setelah itu ambil arah ke kanan menuju Bandungan. Setelah sampai di pasar Jimbaran akan ada gang yang bertuliskan Sidomukti. Anda tidak perlu kuatir tersesat, karena di sepanjang jalan akan ada tulisan yang menunjukan arah jalan ke Umbul Sidomukti. Satu hal yang harus Anda perhatikan, untuk menuju kawasan ini tidak bisa dicapai dengan menggunakan bus karena jalanan yang sempit. Bagaimana sudahkah Anda menyusun jadwal untuk berlibur di kawasan wisata alam Umbul Sidomukti?

Monumen Palagan Ambarawa, Simbol Perjuangan Pemuda Ambarawa

Kota Ambarawa merupakan sebuah kota kecil yang berada di kaki bukit, ibukota Kabupaten Semarang memiliki iklim yang sejuk karena letaknya geografisnya yang berada di antara perbukitan. Kota ini terletak diantara ke dua kota besar yaitu Semarang dan Yogjakarta sehingga Ambarawa menjadi sebuah jalur darat yang strategis menghubungkan kedua kota tersebut. Sejak zaman penjajahan Belanda, kota ini menjadi salah satu tempat yang digunakan untuk melawan para penjajah. Salah satu pertempuran yang paling terkenal adalah pertempuran Ambarawa dan untuk mengenang pertempuran ini dibuatlah sebuah Monumen Palagan Ambarawa.

Monumen Palagan Ambarawa merupakan sebuah monumen yang berada di Kota Ambarawa, Kabupaten Semarang. Dibangunnya monumen ini bertujuan digunakan sebagai simbol untuk mengenang peristiwa pertempuran yang terjadi di Ambarawa pada tanggal 12 Desember sampai 15 Desember 1945.

Museum Palagan Ambarawa
Museum Palagan Ambarawa
Sumber Gambar : iyothworld.blogspot.com

Peristiwa pertempuran di Ambarawa di awali dari mundurnya pasukan sekutu yang terdesak dari kota Magelang sehingga mundur sampai Ambarawa. Saat di kota Ambarawa inilah pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dipimpin oleh Kolonel Soedirman menggunakan taktik gelar sumpit urang atau strategi pengepungan rangkap dari kedua sisi. Taktik ini terbukti berhasil sehingga membuat pasukan sekutu benar-benar terkurung. Hal ini membuat suplai dan komunikasi dengan pasukan induk sekutu terputus. Setelah melakukan pertempuran hebat selama empat hari, pertempuran ini akhirnya selesai pada tanggal 5 Desember dengan kemenangan berhasil diraih tentara Indonesia sehingga bisa mengambil Alih Ambarawa dan pasukan Sekutu berhasil dipukul mundur ke Semarang.

Sejarah dan Kisah Pertempuran Ambarawa

Relief Pahlawan di Monumen Palagan Ambarawa
Relief Pahlawan di Monumen Palagan Ambarawa
Sumber Gambar : arasyazis.blogspot.com

Peristiwa pertempuran Ambarawa mempunyai latar belakang insiden yang terjadi di Magelang sesudah mendaratnya tentara sekutu yaitu Brigade Artileri divisi India ke-23 yang datang ke Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945. Pihak dari Republik Indonesia mengijinkan pasukan sekutu masuk wilayah RI dikarenakan untuk mengurus permasalahan tawanan perang tentara Belanda yang ditahan di penjara Magelang dan Ambarawa.

Tetapi yang terjadi diluar perkiraan sebelumnya, pasukan sekutu Inggris yang datang diikuti oleh NICA yang kemudian memberikan senjata bekas tawanan yang dibebaskan sebelumnya. Pada 26 Oktober 1945 terjadi sebuah insiden terjadi di kota Magelang yang kemudian berkembang menjadi pertempuran pasukan Tentara Keamanan Rakyat melawan tentara gabungan sekutu NICA dan pasukan Inggris. Insiden ini bisa diredam ketika Presiden Soekarno dan Brigadir Jendral Bethell mendatangi Magelang pada tanggal 2 November 1945. Antara ke dua belah pihak akhirnya mencapai kesepakatan yang dituliskan dalam 12 pasal. Berikut adalah naskah perjanjian tersebut.

Pihak sekutu tetap akan menempatkan pasukannya di Magelang untuk melindungi dan mengurus evakuasi APWI (Allied Prisoners War And Interneers atau tawanan perang dan interniran sekutu). Jumlah pasukan sekutu dibatasi sesuai dengan keperluan itu.
Jalan Ambarawa – Magelang terbuka sebagai jalur lalu lintas Indonesia – Sekutu
Sekutu tidak akan mengakui aktivitas NICA dalam badan-badan yang berada di bawahnya.

Gerbong Kereta Api di Palagan Ambarawa
Gerbong Kereta Api di Palagan Ambarawa
Sumber Gambar : semarangplus.com

Tetapi tentara sekutu mengingkari perjanjian tersebut. akhirnya pada tanggal 20 November terjadi pertempuran di Ambarawa antara Tentara Keamanan Rakyat yang dipimpin oleh Mayor Sumarto dengan tentara Sekutu. Pada tanggal 21 November 145 pasukan Sekutu menarik pasukan di Magelang untuk membantu pasukan di Ambarawa. Tetapi pada tanggal 22 November terjadi pertempuran hebat di dalam kota dengan pasukan Sekutu yang melakukan pengemboman di kampung-kampung yang ada di Ambarawa.

Pasukan Tentara Keamanan Rakyat bersatu dengan pasukan pemuda di Boyolali, Salatiga memilih bertahan di kuburan Belanda. Sepanjang rel kereta api pasukan ini membentuk barisan dan membelah kota Ambarawa. Sementara itu dari Magelang pasukan Tentara Keamanan Rakyat dari divisi V/Purwokerto yang dipimpin Imam Androngi melakukan serangan fajar dan berhasil mengambil alih desa Pingit dan juga merebut desa yang ada di sekitarnya. Setelah berhasil merebut sebagian wilayah yang dikuasai sekutu, para komandan pasukan melakukan rapat koordinasi yang dipimpin oleh Kolonel Holland Iskandar.

Dalam rapat ini menghasilkan sebuah keputusan untuk melakukan pembentukan komando yang disebut Markas pimpinan Pertempuran yang ada di Magelang. Sejak saat itu Ambarawa dibagi menjadi 4 bagian yaitu sektor utara, sektor barat, sektor selatan, dan juga sektor timur. Pada tanggal 26 November pimpinan pasukan Tentara Keamanan Rakyat dari Purwokerto yaitu Kolonel Isdimin gugur di medan perang. Kemudian kepemimpinan Tentara Keamanan Rakyat digantikan oleh Kolonel Soedirman. Akhirnya pertempuran bisa dikuasi oleh tentara Republik Indonesia sehingga pasukan Inggris berhasil diusir pada tanggal 5 Desember 1945.

Truck Tentara Sekutu
Truck Tentara Sekutu
Sumber Gambar : flickr.com

Pada tanggal 11 Desember Kolonel Soedirman mengambil sebuah keputusan untuk mengumpulkan semua komandan sektor. Setelah melakukan rapat akhirnya didapat sebuah rencana untuk melakukan serangan terakhir. Serangan direncanakan pada tanggal 12 Desember 1945 tepat pada pukul 4:30 yang dipimpin oleh masing-masing komandan divisi melakukan serangan secara mendadak dari semua sektor. Pada tanggal 12 Desember 1945 dini hari, pasukan Tentara Keamanan Rakyat menuju sasaran masing-masing. Dalam waktu setengah jam pasukan Tentara Keamanan Rakyat menuju sasaran masing-masing. Dalam waktu setengah jam pasukan Tentara Keamanan Rakyat berhasil mengepung musuh di dalam kota. Pertahanan terkuat tentara Sekutu berhasil dilumpuhkan. Akhirnya pada tanggal 15 Desember pasukan sekutu meninggalkan kota Ambarawa dan mundur menuju Semarang.

Semoga Anda bisa mengambil semangat dari para pejuang yang dengan gigih berani melawan tentara sekutu untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Maka sudah sepantasnya kita bisa mengisi kemerdekaan ini dengan kegiatan positif untuk membangun bangsa.

Tugu Muda, Mengenang Pertempuran 5 Hari di Semarang

Berbicara tentang sejarah Kota Semarang memang tidak ada habisnya. Banyak bangunan bersejarah yang ada di kota ini seakan menjadi saksi bisu peristiwa dimasa lampau. Salah satu bangunan bersejarah yang ada di Semarang adalah Tugu Muda yang berada di jantung Kota Semarang. Tugu Muda ini dibangun untuk mengenang perjuangan pemuda Semarang untuk mempertahankan kemerdekaan melawan bangsa Jepang yang dikenal dengan peristiwa Pertempuran 5 Hari di Semarang.

Perjuangan Para Pemuda di Semarang

Sejarah Tugu Muda Semarang
Sejarah Tugu Muda Semarang
Sumber Gambar : semarangtempodoeloe.blogspot.com

Monumen Tugu Muda dibangun untuk mengenang pertempuran selama lima hari yaitu pada tanggal 14 hingga 18 Oktober 1945 saat melawan penjajahan Jepang dalam mempertahankan kemerdekaan negara kesatuan Republik Indonesia. Tugu ini sebagai bukti semangat berani mati dari pemuda Semarang dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru beberapa pekan di Proklamasi di Jakarta.

Pada saat itu ada sekitar 8 polisi istimewa yang menjaga tandon air yang berada di Wungkau secara tiba-tiba diserang tentara Jepang. Para polisi ini ditangkap, dilucuti dan di siksa oleh tentara Jepang di Markas Kidobutai, di Jatingaleh. Peristiwa inilah yang menjadi pemicu keberanian para pemuda-pemudi Semarang yang secara serentak bahu membahu bersama tentara BKR melakukan serangan balasan ke tentara Jepang, sehingga terjadilah pertepuran.

Tugu Muda bersejarah yang unik dan masih berdiri kokoh inilah yang mungkin menjadi saksi bisu gugurnya para pemuda dan pejuang Semarang yang kala itu membela bangsa dan negara. Semangat perjuangan dan keberanian para pemuda di Semarang dan juga kebengisan para tentara Jepang digambarkan dalam diorama yang diukir di bagian bawah Tugu Muda. Sebagai pengingat terjadinya pertempuran 5 hari di Semarang di sebelah Tugu Muda terdapat sebuah museum milik Kodam IV Diponogoro yang diisi dengan dokumentasi peristiwa heroik para pemuda di Semarang saat melawan penjajahan Jepang.

Makna Yang Terkandung dari Bangunan Tugu Muda

Tugu Muda
Tugu Muda
Sumber Gambar : asapwae.blogspot.com

Tugu Muda Semarang yang memiliki bentuk unik seperti lilin ini menggambarkan semangat juang para pemuda Semarang dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang tidak pernah padam. Tugu Muda memiliki bentuk berpenampang segi lima yang terdiri dari tiga bagian yaitu bagian landasan, badan, dan kepala. Pada bagian pasa landasan terdapat sebuah relief. Seluruh bagian Tugu Muda dibuat dari batu, untuk memperkuat kesan tugunya dibuat sebuah kolam hias serta adanya taman di sekeliling tugu.

Untuk mempercantik Tugu Muda lingkungan di sekitar tugu dibangun sebuah taman yang mengelilingi Tugu Muda. Di taman ini juga terdapat berbagai ornamen supaya agar Tugu Muda bisa dijadikan sebuah taman kota antara lain air mancur, serta berbagai lampu-lampu dengan aneka warna menambah kesan anggun pada malam hari. Pada taman ini juga terdapat pohon cemara yang diduplikasi sebagai bambu runcing tegak yang berdiri berjajar sebanyak lima buah yang menggambarkan kondisi pertempuran lima hari di Semarang yang menggunakan bambu runcing.

Relief di Tugu Muda Semarang
Relief di Tugu Muda Semarang
Sumber Gambar : slamsphoto.blogspot.com

Pada bagian dasar tugu terdapat sebuah relief dengan lima buah sangga pilar. Pada tiap sangga ada sebuah hiasan-hiasan yang memiliki makna berbeda-beda yaitu:

  • Relief Hongerodeem, Sebuah relief yang menggambarkan kehidupan rakyat pada zaman penjajahan Belanda dan juga penjajahan Jepang yang sangat menderita karena adanya penindasan sehingga menyebabkan kelaparan, busung lapar merajalela di masyarakat.
  • Relief Pertempuran, Relief ini menggambarkan semangat serta keberanian para pejuang dan pemuda Semarang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
  • Relief Penyerangan, Relief ini melambangkan perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan penjajah untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
  • Relief Korban, Relief ini menggambarkan pada saat terjadinya pertempuran 5 hari yang menelan banyak korban.
  • Relief Kemenangan, Relief ini menggambarkan hasil dari usaha dan perjuangan rakyat serta pengorbanan yang membasahi bumi Semarang.

Inilah peninggalan Bersejarah Laksamana Cheng Ho di Kota Semarang

Di sudut Kota Semarang banyak hal menarik yang bisa Anda temukan. Banyak bangunan tua yang merupakan bukti nyata sejarah masa lalu. Salah satu bukti sejarah yang masih ada sampai saat ini adalah jejak dari sang penjelajah samudra yang berasal dari negeri tirai bambu. Cheng Ho atau Zheng He itulah nama penjelajah itu yang sudah menjelajahi hampir seluruh samudra di dunia. Berdasarkan catatan sejarah masa lalu Laksamana Cheng Ho merupakan seorang muslim yang berasal dari Tiongkok. Indonesia merupakan salah satu negara yang pernah disinggahi oleh Cheng Ho dan meninggalkan beberapa petilasan yang masih ada sampai sekarang.

Sejarah Laksamana Cheng Ho

Sejarah, Laksamana Cheng Ho
Sejarah, Laksamana Cheng Ho
Sumber Gambar : twimg.com

Laksamana Cheng Ho merupakan seorang penjelajah Cina yang terkenal karean melakukan pelayaran jelajah samudra sekitar tahun 1405 sampi 1433. Laksamana Cheng Ho terlahir dari keluarga muslim yang merupakan anak dari Haji Ma Ha Zhi dan ibunya bermarga Oen (wen) berasal dari desa Hey Tay, kabupaten Kun Yang. Pada masa itu Cheng Ho merupakan seorang kasim kepercayaan Kaisar ketiga dari dinasti Ming yaitu Yongle yang memimpin Cina pada tahun 1403 sampai 1424. Saat itu semua ekspedisi pelayaran dunia sangat mengenal nama Cheng Ho. Namanya besarnya disandingkan dengan Bartolemes Dias, Vasco da Gama, Marco Polo, dan juga Christopher Colombus. Diantara nama-nama pelaut eropa yang sudah tersohor itu masih sangat kecil bila dibandingkan dengan Laksamana Cheng Ho. Hal itu bisa dilihat dalam catatan sejarah yang menyebutkan bahwa kapal yang dipakai Laksamana Cheng Ho untuk berlayar 7 kali lebih besar dari kapan yang digunakan oleh Cristopher Colombus.

Dalam Setiap penjelajahan samudra yang dilakukan Cheng Ho melewati kepulauan Indonesia dan ia juga berhenti di tempat-tempat yang pernah disinggahi salah satunya Kota Semarang. Walaupun tidak meninggalkan sesuatu yang bersifat Islam ada beberapa tempat yang menjadi saksi kunjungan Laksamana Cheng Ho di Semarang. Salah satu peninggalan yang menggambarkan Cheng Ho adalah seorang muslim adalah keberadaan Masjid Cheng Ho yang berada di Surabaya. Sedangkan di Semarang Laksamana Cheng Ho meninggalkan bangunan berupa Klenteng dan patung yang berada di Simongan dekat dengan Tugu Muda Semarang. Suasana Tiong Hua sangat kental di tempat ini dibandingkan dengan ornamen Islam sehingga tempat ini digunakan sebagai Klentheng.

Klenteng Sam Po Kong Peninggalan Laksamana Cheng Ho

Klentheng Sam Po Kong
Klentheng Sam Po Kong
Sumber Gambar : www.raddien.com

Untuk mengunjungi klentheng yang berada di JL. Simongan Raya ini Anda bisa mengambil beberapa rute. Bila Anda berasal dari Jakarta dan sekitarnya bisa lewat Kota Kendal dan langsung menuju arah Bandara A. Yani setelah sampai bundaran kal banteng ambil arah yang menuju jalan Pamularsih (arah Solo). Sekitar 6 menit perjalanan dari bundaran kal banteng Anda akan menemui kuil Cheng Ho yang berada di sebelah kanan jalan. Sedangkan Anda dari arah yogyakarta dan Solo bisa menuju kota Banyumanik, atau yang menggunakan roda 4 bisa menggunakan tol yang menuju arah Krapyak lalu mengikuti rute yang sama dengan rute yang dari Kendal di atas.

Untuk mengunjungi Klentheng Cheng Ho atau masyarakat bisa menyebutnya dengan Klentheng Sam Po Khong Anda akan dikenakan tiket dengan harga sekitar Rp3.000 untuk warga sekitar dan Rp15.000 untuk wisatawan dari luarkota/mancanegara. Harga tersebut belum termasuk biaya parkir kendaraan. Klentheng ini hanya ada sedikit pepohonan sehingga bila ingin berpetualang di sini sebaiknya menggunakan topi.

Replika Kapal Laksamana Cheng Ho
Replika Kapal Laksamana Cheng Ho
Sumber Gambar : nevertrytobeprefect.wordpress.com

Sebenarnya secara fungsional bangunan ini merupakan sebuah klentheng yang masih aktif digunakan untuk beribadah sehingga kita tidak bisa bebas memasuki semua ruangan yang ada di Sam Po Kong. Bila Anda ingin memasuki semua ruangan bisa mengambil paket foto berbayar dengan biaya Rp30.000. Foto berbayar adalah salah satu paket yang ditawarkan kepada para wisatawan untuk memakai pakaian tradisional Tiong Hoa yang disediakan oleh pengelola klentheng.

Untuk petilasan lainnya Anda bisa mengunjungi Kali Mberok yang menjadi salah satu saksi bisu kedatangan Laksamana Cheng Ho. Tapi di sini tidak ada bukti nyata bahwa Cheng Pernah tinggal cuma ada catatan sejarah saja yang menyebutkannya. Di kali Mberuk ini Anda bisa melihat replika kapal Cheng Ho yang digunakan berlayar menjelajahi samudra. Untuk menuju Gang Lombok tempat replika kapal Cheng Ho berada.

Itulah sedikit ulasan tentang jejak sejarah Laksamana Cheng Ho di Kota Semarang. Semoga bisa membuat wawasan Anda bertambah dan juga memudahkan Anda bila ingin mengunjungi peninggalan bersejarah dari Laksamana Cheng Ho.

Yuk Intip Kemegahan Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah merupakan salah satu masjid kebanggaan Kota Semarang. Masjid yang berada di Jl. Gajah Raya Kelurahan Sambingrejo, Gayamsari ini merupakan salah satu masjid paling megah di Semarang. Masjid Agung Jawa Tengah dibangun di atas lahan seluas 10 Hektar dan memiliki luas bangunan masjid sekitar 7.669 meter. Masjid ini dibangun menggunakan gaya arsitektur perpaduan antara Jawa Tengah dan Yunani, sehingga menghasilkan bangunan yang sangat mewah.

Bagi Anda yang menyukai wisata religi Masjid Agung ini sangat tempat untuk menjadi salah satu tujuan wisata yang harus dikunjungi. Karena selain bangunan utama yang berupa masjid, kawasan Masjid Agung Semarang juga terdapat berbagai bangunan lain yang sangat menarik untuk dikunjungi. Masjid yang sangat megah ini dibangun pada tahun 2001 dan baru selesai pada tahun 2006. Pada tanggal 14 November 2006 masjid ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Ada sejarah panjang tentang perjuangan pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah ini, semua bermula dari Keberadaan banda (harta) Masjid Besar Kauman Semarang.

Sejarah Masjid Besar Jawa Tengah

Sejarah Masjid Agung Jawa Tengah
Sejarah Masjid Agung Jawa Tengah
Sumber Gambar : jowonews.com

Pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah berawal dari kembalinya tanah banda (harta) wakaf yang dipunyai Masjid Besar Kauman Semarang yang sudah lama tidak tentu rimbanya. Hilangnya banda wakaf Masjid Besar Kauman berawal dari proses pertukaran dari tanah wakaf masjid yang memiliki luas 119.127 hektar dikelola oleh BKM (Badan Kesejahteraan Masjid), salah satu bentukan dari Bidang Urusan Agama Depag Jawa Tengah. Dengan Alsan tidak produktifnya tanah wakaf itu lalu BKM menukar tanah tersebut dengan tanah yang berada di Demak dengan luas 250 hektar. Pertukaran itu dilakukan memlalui PT. Sambirejo yang kemudian hari berpindah ke PT. Tensindo milik Tjipto Siswoyo.

Setelah melalui perjuangan yang sangat panjang oleh berbagai pihak, akhirnya perjuangan itu membuahkan hasil. Tanah banda Masjid Kauman Semarang akhirnya bisa diambil kembali. Setelah mendapatkan banda wakaf tersebut kemudian dibangun Masjid Agung Jawa Tengah di salah satu petak tanah wakaf milik Masjid Agung Kauman.

Kemegahan Arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah

Kemegahan Masjid Agung Jawa Tengah
Kemegahan Masjid Agung Jawa Tengah
Sumber Gambar : meniergallery.blogspot.com

Masjid Agung Jawa Tengah di desain dengan rancangan arsitektur antara campuran Jawa, Islam dan Juga Romawi. Bangunan ini di arsiteki oleh Ir. H. Ahmad Fanani yang bekerja di PT. Atelier Enam Jakarta yang telah memenangkan sayembara untuk membuat desain Masjid Agung Jawa Tengah pada tahun 2001. Bangunan masjid utama yang memiliki atap berbentuk limas khas dari bangunan Jawa serta ujungnya juga dilengkapi dengan kubah besar yang memiliki diameter 20 meter. Selain itu masjid ini memiliki 4 menara dengan tinggi masing-masing 62 meter dan disetiap penjuru atapnya memiliki menara dengan bentuk masjid universal Islam dilengkapi dengan menara yang terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter.

Gaya Romawi bisa Anda lihat pada bangunan 25 pilar yang berada di pelataran masjid. Pilar-pilar tiang yang memiliki koloseum Athena di Romawi yang dihias dengan kaligrafi-kaligrafi yang indah. Pilar-pilar ini menyimbolkan Nabi dan Rosul yang berjumlah 25, pada gerbangnya juga terdapat sebuah tulisan dua kalimat syahadat pada bidang datar terdapat tulisan huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti”.

Fasilitas Masjid Agung Jawa Tengah

Payung Hidrolik Masjid Agung Jawa Tengah
Payung Hidrolik Masjid Agung Jawa Tengah Sumber Gambar : kotawisataindonesia.com

Kawasan Masjid Agung Jawa Tengah seluas 10 hektar memiliki berbagai fasilitas yang sangat lengkap. Di dalam area Masjid Agung Jawa Tengah terdapat Menara Asma Al-Husna dengan tinggi 99 meter. Lantai satu menara ini difungsikan sebagai Studio Radio DAIS MAJT, sedangkan lantai 2 digunakan sebagai Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah. Pada lantai 18 terdapat sebuah rumah makan berputar, lantai 19 digunakan sebagai gardu pandang Kota Semarang, lantai 19 juga digunakan sebagai salah satu tempat rukyat al-hilal.

Pada serambi Masjid Agung Jawa Tengah terdapat 6 buah payung besar otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi. Masing-masing payung raksasa ini memiliki tinggi 20 meter dengan lebar diameter 14 meter. Payung elektrik ini akan dibuka pada saat sholat Jum’at, Indul Fitri serta saat Idul Adha. Hal ini dilakukan bila kondisi cuaca baik dan kondisi kecepatan angin tidak lebih dari 200 knot. Bila Anda datang tidak pada hari-hari tersebut dan ingin menyaksikan proses mengembangnya payung raksasa ini bisa menghubungi pengurus masjid.

Menara Masjid Masjid Agung Jawa Tengah
Menara Masjid Masjid Agung Jawa Tengah
Sumber Gambar : smoephysolo.wordpress.com

Masjid Agung Jawa Tengah juga memiliki Al- Qur’an raksasa yang memiliki ukuran 145 x 95 cm². Al Qur’an ini ditulis tangan oleh Drs. Khyatudin yang berasal dari Pondok Pesantren Al-Asyariyyah, Kalibeber Mojotengah, Wonosobo. Al Qur’an ini ditaruh di dalam ruangan utama pada tempat sholat. Di dalam ruangan ini juga terdapat sebuah bedug raksasa yang memiliki ukuran 310 cm dengan diameter 220 cm. Tokat khotib yang digunakan pada saat khutbah jum’at merupakan tongkat yang diberikan oleh Sultan Bolkiah dari Brunei Darusalam.

Bagaimana? Menarik bukan, khususnya bagi Anda yang gemar dengan arsitektur masjid megah ini. Jika Anda kebetulan berada di Kota Semarang, sangat disayangkan bila tidak berkunjung ke salah satu masjid megah di Indonesia. Dengan datang ke masjid ini Anda akan merasakan sensasi seperti berada di Masjid Nabawi.

Kota Lama Semarang, Little Netherland di Kota Semarang

Kota lama di Semarang dibangun pada abad 18 pada zaman pemerintahan Hindia Belanda. Kota Lama Semarang merupakan pusat perekonomian dan budaya di Jawa Tengah pada saat masa penjajahan Belanda. Pada saat itu berbagai etnis berkumpul menjadi satu di kota ini. Pada bagian utara yang dipotong oleh kali (sungai) Mberok merupakan kawasan kampung melayu yang memeluk agama Islam ini dibuktikan dengan adanya peninggalan bangunan berupa Masjid Layur. Sementara itu pada sisi barat merupakan kawasan orang Jawa yang beragama Islam dan adanya bangunan Masjid Kauman Semarang. Pada bagian Selatan kota ini terdapat pemukiman keturunan Cina yang berkelompok dan membentuk satu kawasan Pecinan Semarang. Sedangkan pada bagian dalam kota ini terdapat sebuah bangunan dengan arsitektur yang sangat bagus, masyarakat sekitar memberikan nama bangunan ini Gereja Blenduk.

Bangunan Tua di Kota Lama Semarang
Bangunan Tua di Kota Lama Semarang
Sumber Gambar : potensijateng.com

Kawasan Kota Lama Semarang akan seperti kota mati bila tidak adanya beberapa titik bisnis seperti Stasiun, Polder Air Tawang, Bank Mandiri, Pabrik Rokok Praoe Layar, serta Asuransi Jiwa Serasa. Penyebab dari ditinggalkannya Kota Lama Semarang yang pernah menjadi pusat ekonomi itu ditinggalkan dan berpindah ke kawasan kota Semarang. Salah satu penyebabnya adalah mahalnya biaya sewa, hal ini dikarenakan pada saat itu kawasan ini menjadi pusat bisnis sehingga harga properti melonjak sehingga mengakibatkan para pelaku UKM sedikit demi sedikit berpindah ke tempat lain. Selain itu yang menjadi pertimbangan utama para pelaku usaha meninggalkan kawasan kota tua adalah karena kawasan ini yang semakin terpendam sehingga berada di bawah batas air laut, hal ini bisa menyebabkan terjadinya banjir rob.

Jalan-jalan di Kota Lama Semarang

Jalan-jalan di Kota Lama Semarang
Jalan-jalan di Kota Lama Semarang
Sumber Gambar gateofjava.wordpress.com

Di balik kekurangannya Kota Lama Semarang memiliki banyak cerita dan juga sejarah yang panjang. Hal inilah mungkin yang menjadi daya tarik dari kota ini. Kawasan Kota Lama Semarang sangat mudah dijangkau dari berbagai arah, oleh karena itu Anda tidak usah kuatir bila ingin berkunjung ke tempat ini. Salah satu tempat yang wajib Anda kunjungi ketika berwisata ke Kota Lama Semarang adalah Kawasan Stasiun Tawang dan Polder Air Tawang. Stasiun Tawang berada di Jalan Taman Tawang merupakan bangunan peninggalan Belanda. Stasiun ini diresmikan pertama kali oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda yang bernama Baron Sloet Van De Beele.

Bangunan ini memiliki gaya arsitektur yang Indische sesuai dengan kondisi daerah Semarang yang memiliki iklim tropis. Sedang Polder air Tawang dibangun sebagai pusat pembuangan air dari kawasan yang berada di sekitarnya lalu dialirkan ke laut untuk mengurangi ROB. Polder Tawang ini mengalami perbaikan serta pembaharuan karena kondisinya yang sudah tidak nyaman serta mengeluarkan bau busuk. Tetapi saat ini, Polder Air Tawang sudah selesai direhap seutuhnya sehingga tempat ini sudah sangat nyaman dan juga memiliki panorama yang indah.

Polder Air Tawang di Kota Lama Semarang
Sumber Gambar : kotawisataindonesia.com

Di sekitar kawasan Polder Anda juga bisa melihat pabrik rokok Praoe Lajar (Parau Layar). Pabrik ini sudah beroperasi sejak zaman pemerintahan Belanda dan masih beroperasi sampai sekarang. Bentuk rokok yang dibuat pabrik ini sangat unik, mungkin para perokok jarang menemui jenis rokok yang diproduksi disini. Setelah puas melihat pabrik rokok yang, Anda bisa menuju bagian tengah Kota Lama, tepatnya berada di persimpangan perempatan jalan Glatik, jalan Garuda, dan jalan Jend Soeprato. Di persimpangan jalan ini sangat cocok untuk Anda yang hobi fotografi, dengan mengabadikan suasana kota yang bersih.

Di sekitar persimpangan terdapat sebuah taman yang tersedia tempat duduk cocok untuk bersantai dimalam hari. Si setiap sudut jalan terdapat sebuah lampu penerangan yang menambah indah suasana di kota ini. Selain itu di tempat ini juga tersedia berbagai macam kuliner khas Semarang yang wajib Anda coba seperti sego kucing, nasi goreng, ikan bakar serta menu lain yang siap untuk memuaskan lidah Anda.

Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang
Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang
Sumber Gambar : bisnisonlinez.com

Setelah puas berwisata kuliner Anda bisa melanjutkan petualangan ke bagian barat Kota Lama Semarang. Pada bagian barat terdapat sebuah bangunan kuno yang sangat megah yaitu gereja Blenduk. Bangunan ini merupakan salah satu icon Kota Semarang selain Masjid Agung Jawa Tengah, Tugu Muda serta Lawang Sewu. Bangunan gereja yang dibangun pada masa penjajahan Belanda ini telah berusia sekitar 200 tahun dan masih berdiri kokoh sampai sekarang. Asal mula nama gereja Blenduk adalah berawal dari bentuk kubah bangunan ini yang berbentuk setengah bola, orang Jawa menyebut bentuk ini dengan sebutan Mbenduk (mengembang ke atas). Gereja Blenduk didirikan pada tahun 1753 yang dirancang oleh De Wilder dan W. Westamas. Setelah beberapa kali mengalami renovasi hingga penampakannya seperti saat ini.

Beberapa tempat yang bisa Anda kunjungi di sekitar Kota Lama Semarang beberapa masjid tua di Kota Semarang seperti Masjid Menara yang terletak di jalan Layur Kampung Melayu dan juga Masjid Besar Kauman yang berada di Jalan Alun-alun Kota Semarang Tempo Dulu. Bila Anda telah puas jalan-jalan sempatkan untuk berbelanja oleh-oleh di pasar Johar yang yang merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara.